Month: June 2023

Pendidikan Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara Kesamaan Konsep

Pendidikan Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara Kesamaan Konsep – Beberapa tahun yang lalu, dalam pidatonya yang berjudul “Gawat Darurat Pendidikan di Indonesia,” Anies Baswedan (ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) menggambarkan kesamaan antara konsep pendidikan ku-institute.id Finlandia dan konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara. Anies menjelaskan bahwa kesamaan pertama adalah kebijakan pemerintah Finlandia untuk melakukan standarisasi pendidikan secara proporsional.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya yang berjudul “Pusara” (1940), di mana ia menyatakan bahwa kita tidak perlu mengubahkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak dapat diseragamkan. Perbedaan bakat dan kondisi kehidupan anak-anak dan masyarakat harus menjadi perhatian kita dan harus diakomodasi dengan baik. Sejarah pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pemahaman kita tentang perbedaan konsep pendidikan di Indonesia dan Finlandia.

Apabila merujuk pada buku Pusara (1940), terlihat kesamaan konsep pendidikan Finlandia dengan Ki Hadjar Dewantara. Pemerintah Finlandia menekankan pentingnya kesetaraan dalam pendidikan, yang sejalan dengan pernyataan Ki Hadjar Dewantara bahwa rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan berkualitas sesuai dengan kepentingan kebudayaan dan kemasyarakatan.

Dalam buku Keluarga, Ki Hadjar Dewantara juga berpendapat bahwa anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratnya yang unik, dan tidak mungkin pendidik dapat mengubah padi menjadi jagung atau sebaliknya. Konsep ini sejalan dengan pandangan pemerintah Finlandia yang menentang standarisasi kaku dan berlebihan karena dianggap sebagai musuh kreativitas. Ini menunjukkan bahwa dalam sejarah pendidikan, terdapat persamaan pemikiran antara Finlandia dan Ki Hadjar Dewantara.

Kesamaan penting diantara Mimbar Indonesia (1948) dan pendidikan di Finlandia muncul melalui pandangan Ki Hadjar Dewantara dan prinsip-prinsip Finlandia terkait bermain dalam proses pendidikan. Dalam salah satu tulisannya, Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa bermain adalah kebutuhan jiwa anak untuk kemajuan hidup secara jasmani dan rohani. Secara serupa, Finlandia juga memberikan penekanan yang kuat terhadap pentingnya bermain dalam pendidikan anak.

Baca juga: Pembuat Pesawat Anthony Fokker Andalan PD I yang Lahir di Blitar

Hal ini menunjukkan adanya kesamaan dalam konsep pendidikan antara keduanya. Menariknya, prinsip-prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang ditulis puluhan tahun lalu telah diterapkan oleh negara lain, termasuk Finlandia, dan telah berhasil meningkatkan kinerja pendidikan mereka.

Ironisnya, di Indonesia sendiri, kita semakin terasing dari pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Hal ini menjadi catatan penting bagaimana sejarah pendidikan kita harus diperhatikan dan dipelajari agar kita tidak terlalu jauh dari pandangan-pandangan yang telah terbukti berhasil.

Demikianlah kesamaan penting antara sejarah pendidikan Indonesia dan prinsip-prinsip pendidikan Finlandia. Hal ini menegaskan pentingnya untuk mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang terbukti sukses dari masa lalu, sehingga kita dapat mencapai kemajuan dalam dunia pendidikan kita sendiri.

Pembuat Pesawat Anthony Fokker Andalan PD I yang Lahir di Blitar

Pembuat Pesawat Anthony Fokker Andalan PD I yang Lahir di Blitar – Ketika Anthony Fokker lahir di Blitar, Indonesia, tak ada yang menyangka bahwa ia akan menjadi tokoh penting dalam sejarah pembuatan pesawat tempur. Namun, Fokker membuktikan bahwa ia memang dibekali dengan pendidikan dan bakat yang luar biasa dalam bidang penerbangan.

Dalam Perang Dunia I, Fokker berhasil menciptakan pesawat tempur andalan Jerman, Fokker D VII, yang sangat dihormati oleh para petinggi militer Jerman. Bahkan, tidak banyak orang yang menyadari bahwa perancang pesawat ku-institute.id yang mereka kagumi tersebut adalah seorang Belanda yang selalu dipandang sebagai outsider.

Tertariknya Fokker pada rancangan pesawat sebenarnya sudah diprediksi oleh ayahnya, Herman Fokker, yang juga seorang perintis dalam dunia penerbangan. Dengan demikian, tidak heran bahwa Fokker mampu mencapai kesuksesan yang spektakuler dalam bidang penerbangan.

Dengan cerita suksesnya, Anthony Fokker menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam dunia penerbangan. Kisah hidupnya pun menjadi sejarah dalam perkembangan industri penerbangan, yang patut diteladani hingga saat ini.

Fokker, yang lahir di Blitar pada 6 April 1890, adalah putra dari keluarga pengusaha perkebunan. Ayahnya adalah seorang pemilik perkebunan kopi yang memproduksi hasil panen yang bernilai tinggi dan diekspor ke sejumlah negara Eropa. Meskipun ia lahir di Blitar, Fokker hanya tinggal di Indonesia sampai usia empat tahun karena keluarganya memutuskan untuk kembali ke Belanda dan menetap di Harlem.

Minat Fokker dalam merancang mesin pesawat dan kereta api semakin terlihat ketika ia bersekolah di jenjang menengah. Ia selalu menggambar mesin pesawat dan kereta api di dalam kelas. Ketertarikan terhadap penerbangan semakin menguat ketika ia menyaksikan demo flight oleh Wilbur Wright, perancang pesawat pertama di dunia, pada tahun 1908 di Le Mans, Perancis. Namun, ketertarikan tersebut membuat Fokker kehilangan fokus pada pelajaran dan akhirnya ia putus sekolah.

Ayah Fokker tidak menyerah dengan situasi tersebut. Ia kemudian mengirim Fokker untuk bersekolah di J Bingen Technical School, Jerman, untuk menekuni pendidikan teknik mesin mobil. Namun karena ketertarikan Fokker terhadap mesin pesawat lebih berat, ia dipindahkan ke Erste Deutsche Automobil Fachshule yang berada di kawasan Mainz.

Dari sejarah hidup Fokker ini, terlihat betapa pentingnya minat dan bakat dalam menentukan pendidikan yang dipilih. Meskipun Fokker tidak melanjutkan pendidikan reguler, ia mampu menekuni minatnya dan menciptakan sejarah dalam dunia penerbangan. Sebagai profesional, kita perlu mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Fokker dan menginspirasi orang lain untuk mengejar minat dan bakat mereka dengan tekun dan penuh semangat.

Pendidikan dalam bidang teknik penerbangan yang dijalani oleh Fokker ternyata memberikan hasil yang positif. Fokker mampu membuat pesawat rancangannya sendiri, bernama De Spin. Pada bulan Agustus 1911, Fokker melakukan demo flight terbang di sekitar menara Sint Bavokerk di Harlem. Aksi penerbangan menggunakan pesawat De Spin ini membuat Fokker menjadi terkenal dan mendapatkan undangan untuk terbang di atas Belanda dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ratunya. Kesuksesan ini membuat Fokker berpikir untuk tidak hanya sebatas merancang dan membuat pesawat, ia kemudian memutuskan untuk memulai bisnis penerbangannya di Jerman.

Kembali ke Jerman pada tahun 1912, Fokker menetap di Johannistal, Berlin dan membuka pabrik pesawat terbang bernama Fokker Aeroplanbau. Ketika pabriknya semakin berkembang dan menghasilkan berbagai tipe pesawat, Fokker kemudian memindahkan lokasi pabriknya ke kawasan Schwerin dan mengubah nama pabriknya menjadi Fokker Werke GmbH.

Kesuksesan karier Fokker semakin meningkat ketika ia menciptakan pesawat berbahan kayu, yang secara teknis terinspirasi dari pesawat Perancis, Morane Sauliner. Pesawat buatannya kemudian menjadi pesawat tempur andalan Jerman. Dengan lisensi dari pabrik pesawat Perancis, Le Rhone, Fokker kemudian mengembangkan pesawat tersebut menjadi beberapa tipe dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan pesawat yang ia tiru.

Sejarah perjalanan Fokker menciptakan pesawat dan memulai bisnis penerbangan yang sukses ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dalam bidang teknik penerbangan memainkan peran penting dalam karier dan kesuksesan seseorang dalam dunia penerbangan.

Meskipun Fokker diakui sebagai perancang pesawat terbaik di Jerman, namun ia pernah dianggap sebagai warga kelas dua dan dianggap sebagai orang asing oleh para perancang pesawat lainnya. Hal ini disebabkan oleh kewarganegaraannya yang berasal dari Belanda. Sistem rotary engine buatan Fokker yang lebih unggul dibandingkan dengan buatan perancang Jerman dianggap sebagai barang kelas dua. Namun, Fokker tetap memilih untuk mengalah dan tetap meniti karir di dunia perancangan pesawat.

Selama tinggal di Jerman, Fokker mampu beradaptasi dengan baik dan memahami ras Germania yang menyukai superioritas mereka. Ketika militer Jerman mulai memikirkan pentingnya pesawat dalam pertempuran, Fokker diterima sebagai warga negara Jerman pada tahun 1914 dengan syarat pesawat buatannya harus bermanfaat bagi militer Jerman. Selama Perang Dunia I, produksi pesawat rancangan Fokker semakin beragam dan pesawat tempur Fokker E I yang didesain khusus untuk kepentingan militer Jerman sangat diminati. Sistem penembakkan senjata mesin pesawat Fokker E I bahkan sudah bisa sinkron dengan putaran baling-baling pesawat.

Dalam sejarah pendidikan di Jerman, Fokker layak mendapat pengakuan karena karyanya telah membantu kemajuan militer Jerman dalam Perang Dunia I. Meskipun pada awalnya dianggap sebagai orang asing, Fokker berhasil membuktikan kemampuannya sebagai perancang pesawat yang unggul dan memberikan kontribusi besar dalam sejarah perang Jerman.

Selama satu tahun di kawasan Eropa Barat, pesawat ini menjadi primadona di udara. Penembakan menggunakan senapan mesin dengan peluru yang mampu melintas di antara putaran baling-baling bukanlah rancangan asli dari Fokker. Sistem penembakan ini sebenarnya merupakan punya pesawat Perancis yang ditembak jatuh dan disita oleh militer Jerman pada April 1915. Roland Garros, seorang perancang alat tembak yang selamat dari kecelakaan tersebut, memberikan banyak masukan dan saran kepada teknisi Jerman, termasuk Fokker.

Dalam waktu hanya 48 jam, Fokker berhasil menyelesaikan pengembangan synchronization device berkat keahlian Garros. Dengan kehadiran pesawat biplane tipe baru Fokker D II dan D III pada tahun 1916, pertempuran udara di langit Eropa menjadi lebih menyeramkan dan mematikan. Pesawat Fokker ini memiliki kemampuan lebih cepat (150 kilometer per jam) dan bersenjata mesin tunggal IMG 08 kaliber 7,92 mm.

Tentang sejarah ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran. Mengetahui sejarah yang berharga dan pembelajaran dari masa lalu dapat membantu kita dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan pendidikan kita. Meskipun pesawat ini mungkin telah menjadi “raja langit” saat itu, kita sebagai masyarakat modern harus membangun dunia kita di atas fondasi yang lebih baik dan lebih maju.

Pada tahun 1916, Fokker mengalami masa suram di mana pesawat buatannya dianggap tidak berkembang dan kalah bersaing dengan pesawat tempur lain. Inspeksi Fliegertruppen (Idflieg), lembaga pengawas penerbangan militer Jerman, memerintahkan Fokker untuk bekerja sama dengan industri penerbangan lainnya demi peningkatan kualitas pesawat. Namun, keadaan mulai berubah setelah kepala perancang Fokker, Martin Kreuzer, meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat. Franz Moser menggantikan posisinya dan berhasil merancang pesawat Fokker Dr 1 triplane, D VII biplane, dan D VIII monoplane.

Kepemimpinan Moser membawa kemajuan signifikan pada Fokker Werke GmbH. Hal itu semakin meningkat ketika Menteri Penerbangan Jerman memerintahkan untuk menggabungkan Fokker dengan industri penerbangan Hugo Junker untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur bagi Imperial German Army Air Service. Keputusan merger ini membuat lahirlah pesawat triplane Dr I (Dreidecker I) yang diproduksi secara massal pada musim panas tahun 1917. Namun, sayangnya pesawat ini mengalami masalah teknis yang menyebabkan banyak pilot Jerman tewas di medan tempur. Akibatnya, pesawat ini dibatalkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sejarah Fokker menyajikan perjalanan panjang di industri penerbangan, di mana melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan, mereka berhasil merancang beberapa pesawat unggulan. Terlepas dari banyaknya tantangan yang dihadapi, inovasi dan kemampuan mereka dalam merespons kebutuhan pasar menjadikan Fokker sebagai pemimpin dalam industri penerbangan di masa lalu. Kata kunci pendidikan dan sejarah menjadi penting dalam membangkitkan semangat dalam mengapresiasi sejarah perjalanan Fokker dan industri penerbangan secara keseluruhan.

Baca juga: Buah Inilah Paling Tercemar Pestisida

Setelah mengalami beberapa modifikasi, kemampuan pesawat Dr I mengalami peningkatan yang signifikan. Meskipun kemampuan menanjak dan bermanuver sudah cukup baik sejak awal, kecepatan dan aerodinamika sayap masih memerlukan perbaikan. Untuk memperbaiki hal ini, dibutuhkan modifikasi pada pesawat dengan pemasangan model sayap biplane, V-11, dan penggantian mesin dengan menggunakan Mercedes DIII.

Hasil dari modifikasi yang dilakukan terhadap pesawat Dr I adalah kemampuannya menjadi pesawat tempur unggulan. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya pilot tempur tersohor Red Baron, Manfred von Richthofen, mencetak sejarah dengan memenangkan pertempuran menggunakan Fokker Dr I.

Sejarah perjalanan pesawat Dr I tentu saja menjadi bagian penting yang harus dipahami oleh para pengamat penerbangan. Untuk itu, pendidikan dan pemahaman tentang sejarah pesawat tempur ini sangatlah penting. Dengan pemahaman yang baik tentang sejarah dan kinerja pesawat, dapat membantu dalam meningkatkan kualitas dan kemampuan pesawat masa kini untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerjanya.

Buah Inilah Paling Tercemar Pestisida

Buah Inilah Paling Tercemar Pestisida – Pertanian modern yang mengandalkan pestisida sebagai pengendali hama tentu memunculkan kekhawatiran mengenai paparan pestisida pada buah dan sayuran. Namun, penting bagi kita untuk mengenali buah yang paling banyak mengandung residu pestisida agar dapat mengambil tindakan yang tepat.

Setiap tahun, Environmental Working Group, lembaga advokasi nirlaba ku-institute.id di Amerika Serikat, merilis daftar Dirty Dozen yang berisi buah dan sayuran yang paling terkontaminasi pestisida. Buah apel selalu berada di urutan pertama, diikuti oleh stroberi, anggur, seledri, persik, bayam, paprika, nectarin, mentimun, kentang, tomat ceri, dan cabai.

Meski demikian, jangan khawatir untuk mengonsumsi buah dan sayur karena manfaat kesehatannya jauh lebih besar dari risiko paparan pestisida. Ada banyak cara untuk mengurangi paparan pestisida, seperti mencuci dan mengupas buah dan sayur.

Baca juga: Sejak Dini Edukasi Pelestarian Hutan Bakau Taman Pendidikan Mangrove

Jika memungkinkan, pilihlah produk organik yang bebas dari pestisida. Pendidikan mengenai cara memilih dan mengonsumsi buah dan sayur yang sehat dapat membantu menjaga kesehatan kita dan keluarga. Oleh karena itu, penting untuk mencari informasi yang akurat dan melakukan upaya yang tepat dalam menjaga kesehatan kita.

Sejak Dini Edukasi Pelestarian Hutan Bakau Taman Pendidikan Mangrove

Sejak Dini Edukasi Pelestarian Hutan Bakau Taman Pendidikan Mangrove – Dua puluh siswa kelas empat SD Labuhan dengan semangat berolahraga dan membawa tanaman khas Labuhan, Jek Lanjek, berkunjung ke kawasan penanaman bakau dan cemara laut binaan PT. PERTAMINA HULU ENERGI WEST MADURA OFFSHORE (PHE WMO) di Desa Labuhan. Kegiatan ku-institute.id pagi itu dipandu oleh guru pendamping, Kafiyati, yang tak henti tersenyum lebar pada anak-anak.

Di Taman Pendidikan Mangrove Desa Labuhan, Sahril mengajak mereka menanam bakau sebagai bagian dari program konservasi lingkungan yang telah dirancang sejak tahun 2016 oleh Kelompok Tani Mangrove ‘Cemara Sejahtera’ dan PHE WMO. Dalam program ini, PHE WMO telah membangun berbagai fasilitas seperti aula pertemuan, toilet, perpustakaan, mushala, menara pantau, trekking area, kios pedagang, arboretum mangrove-cemara laut, kandang kambing, kawasan budidaya kepiting soka, tempat pembibitan, dan pertanian pepaya Callina.

Kegiatan konservasi lingkungan dan layanan pariwisata di Taman Pendidikan Mangrove Desa Labuhan tetap berjalan dengan dukungan PHE WMO. Inilah contoh pendidikan lingkungan yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Amarullah, sebagai Senior Officer Eksternal dan Pengembangan Masyarakat Lapangan di Gresik, turun ke lapangan bersama rekan-rekannya untuk melaporkan bahwa warga komunitas bakau Labuhan terus berproses dalam upaya penyelamatan kawasan pantai utara Labuhan. Menurutnya, sejak 2016, warga dan PHE terus berproses dalam pemahaman soal pelestarian lingkungan dan kualitas hidup mereka.

Dalam interaksi yang sering dilakukan dengan warga, Amar dan beberapa rekannya telah menjadi sosok yang dikenal oleh beberapa warga. Penanaman bakau di Labuhan telah memberikan dampak positif pada peningkatan pembibitan oleh warga setempat dan PHE WMO. Bahkan, PHE WMO Gresik memiliki program bernama Mangrove in Office (MIO) yang dikembangkan sejak tahun 2013. Program ini berfungsi sebagai kampanye pembibitan bakau di area perkantoran dengan perawatan air payau atau air tawar, pupuk cair, dan mudah dikembangkan untuk kemudian bisa dikembalikan ke habitat aslinya.

PHE WMO bahkan telah mengajukan paten MIO jenis Bruguiera gymnorrhiza (putut) pada tahun 2016 dan berhasil mendapat paten pada tahun 2017 dengan nomor hak paten P 00 2016 07760. Selain itu, anak-anak kelas empat SD Labuhan juga terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan dengan kegiatan yang ceria dan mendidik.

Dengan adanya program pembibitan bakau dan kegiatan pendidikan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat dan pihak terkait, harapan untuk melestarikan lingkungan di Labuhan semakin besar. Semua pihak terus berproses dan memikirkan dampak dari setiap tindakan mereka terhadap lingkungan dan kualitas hidup warga setempat.

Seorang pria lahir pada tahun 1971 terlihat berdiri di dalam lingkaran dengan senyuman yang terlihat ceria. Dia memberikan arahan pada anak-anak untuk memperhatikan cara menanam bibit bakau. Kegembiraan terus berlanjut ketika Sahril mengajak anak-anak meniti pelantar kayu yang dibangun di kawasan TPM Labuhan.

Setelah bercengkerama sejenak, mereka kembali berlarian menuju tempat penanaman bakau. Dalam pengawasan Sahril, mereka mulai menancapkan bibit yang mereka pegang. Sahril mengungkapkan bahwa mereka biasanya rutin mengunjungi kawasan TPM. “Setiap Jumat pagi, anak-anak sekalian berolahraga di sana. Kadang-kadang, satu sekolah kami mengunjungi TPM,” ujar Kafiyati yang mengaku kini sangat jarang mengunjungi pantai timur Labuhan.

“Sekarang lebih dekat ke pantai barat, anak-anak bisa bermain dan ikut menanam mangrove juga di sana. Bahkan hampir setiap pagi kami berolahraga di sana,” tambah Kafiyati. Setelah menanam bakau, anak-anak kembali ke sekolah karena waktu olahraga sudah selesai. Kami melanjutkan perjalanan bersama Pak Sahril. Ia membawa kami mengenal aneka jenis bakau yang mereka tanam di kawasan pantai timur Labuhan.

Meski hanya sebentar, kami dapat memastikan bahwa Pak Sahril menguasai nama-nama latin bakau Labuhan seperti Ceriops tagal, Ceriops decandra, Burguiera gymnorrhiza, Burguiera cylindrica, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Rhizopora, dan Pemphis acidula. Ia juga menyebutkan bahwa jenis terbanyak yang ditanam di area TPM Labuhan adalah jenis Rhizopora spp dan Avicennia spp. Melalui kegiatan seperti ini, dapat diperoleh manfaat pendidikan dan lingkungan yang positif bagi anak-anak dan lingkungan sekitarnya.

Sahril, seorang warga setempat, menjelaskan pentingnya kawasan mangrove atau bakau di Labuhan. Selain dapat menahan abrasi, pohon bakau juga berfungsi sebagai pemecah ombak, bahkan untuk ombak yang sangat tinggi. Warga juga memanfaatkan mangrove untuk pakan ternak dan tanaman obat.

PHE WMO pun aktif dalam memanfaatkan kawasan ini dengan program penelitian burung migran. Terdeteksinya burung-burung pantai di Labuhan menjadi salah satu bioindikator keberadaan lahan basah di pesisir pantai. Selain itu, PHE WMO juga mengadakan kegiatan pendidikan dalam rangka World Migratory Bird Day pada tahun 2016. Semua upaya ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keberadaan lingkungan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi alam.

Setelah menikmati indahnya burung dan area mangrove dari ketinggian, kami mengikuti Pak Sahril menuju pantai pasir putih di Labuhan. Kami menuju ke pantai barat yang memiliki pemandangan hijau yang menakjubkan. Di sini, ikan, kepiting, dan lobster tersedia sebagai hasil tangkapan warga. Jika pantai barat dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, maka tetua akan mengizinkan daerah ini dibuka untuk pengunjung. BUMDES akan mengelolanya seperti pantai timur, sehingga semua warga dapat terlibat dan sejahtera..

Baca juga: Berencana Aceh dan Pemkab Blora Mengembangkan Makam Pocut Meurah Intan

Kami menikmati berjalan-jalan di pantai pasir putih dan perairan yang sejuk. Kami menuju ke pantai barat Labuhan, tempat PHE MWO dan komunitas Payung Kuning akan menggiatkan konservasi bakau dan terumbu karang. Kami melewati lanskap alam dan lanskap budaya yang sangat kaya di Labuhan. Kami melihat rumah kuno yang sering disebut Bheley yang memiliki gebyok kayu berukir akulturasi Tiongkok Madura gaya Majapahitan. Kami juga dapat menemukan tempat pembuatan kapal bercadik ala Labuhan yang dikenal dengan Jung Julung, terbuat dari kayu utuh dipasang cadik.

Kami juga merasa senang dengan ramahnya warga Labuhan saat kami bertegur sapa. Labuhan adalah sebuah daerah konservasi bakau dan memiliki kekayaan budaya yang patut dilestarikan untuk keberlanjutan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik. Pendidikan dan lingkungan merupakan dua hal yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan tersebut. Mari kita jaga dan lestarikan keindahan alam dan budaya di Labuhan untuk generasi masa depan.

Berencana Aceh dan Pemkab Blora Mengembangkan Makam Pocut Meurah Intan

Berencana Aceh dan Pemkab Blora Mengembangkan Makam Pocut Meurah Intan – Setelah dirawat oleh ahli waris RMN Dono Muhammad selama bertahun-tahun, makam Pocut Meurah Intan akan dirawat oleh pemerintah Kabupaten Blora dan DPRK Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hal ini dilakukan untuk menjaga warisan sejarah dan pendidikan bagi masyarakat di masa depan. Rencana kerja sama ku-institute.id ini dibahas dalam pertemuan antara DPRK Nagan Raya dan Bupati Blora, Arief Rohman.

“Kami membahas banyak hal, termasuk rencana pengembangan makam Pocut Meurah Intan yang akan dijadikan sebagai tempat belajar sejarah dan pendidikan bagi masyarakat,” kata Puji Hartini, Wakil Ketua DPRK Nagan Raya, seperti dilansir dalam rilis Pemkab Blora. Dengan melakukan perawatan dan pengembangan makam Pocut Meurah Intan, diharapkan masyarakat dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dalam bidang sejarah dan pendidikan.

Dalam pandangan masyarakat Aceh, sosok almarhumah ini dianggap sebagai seorang perempuan yang sangat berani di zaman penjajahan Belanda sampai akhirnya diasingkan ke Blora. Untuk itu, kami siap memberikan fasilitas dan menjadi penghubung antara Pemerintah Kabupaten Blora dengan Pemerintah Aceh untuk memperjuangkan pengembangan makam almarhumah ini menjadi sebuah situs sejarah dan religi.

Dalam menanggapi rencana tersebut, Arief Rohman mengapresiasi upaya tersebut dan berharap agar makam tersebut dapat dikembangkan seperti makam Cut Nyak Dien di Sumedang. Namun, karena keterbatasan anggaran Pemerintah Kabupaten Blora, maka kerjasama dengan Pemerintah Aceh sangat dibutuhkan untuk mengembangkan makam tersebut menjadi tujuan wisata sejarah dan religi yang menarik.

Pertemuan tersebut tidak hanya sebatas diskusi, melainkan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Pocut Meruah Intan di Desa Temurejo. Sebuah kegiatan yang sangat penting untuk memperkuat nilai-nilai sejarah dan religi, yang keduanya sangat erat kaitannya dengan pendidikan.

Dalam hal ini, pendidikan tidak lagi hanya diartikan sebagai proses pemberian ilmu pengetahuan saja, melainkan juga sebagai upaya memperkuat nilai-nilai sejarah dan religi sebagai bagian dari pengembangan karakter bangsa. Oleh karena itu, kami berharap agar upaya pengembangan makam almarhumah ini dapat terus didukung dan dilaksanakan dengan profesionalisme yang tinggi.

Makam Pocut Meurah Intan, seorang pahlawan Aceh yang memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsa, masih dijaga dan diurus oleh keluarga RMN Dono Muhammad hingga kini. Mereka adalah generasi ketiga dan keempat yang telah mewarisi nilai sejarah dan kepedulian terhadap keberlangsungan makam tersebut.

Sejarah mencatat bahwa RMN Dono Muhammad tidak hanya menjadi penghulu, melainkan juga sahabat dekat Pocut Meurah Intan. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik, Pocut Meurah Intan berhasil dibebaskan dan disembunyikan di depan Masjid Agung Blora. Kini, makamnya berdiri sebagai bukti perjuangan dan pengorbanannya untuk bangsa.

Dalam konteks pendidikan, menjaga dan memperhatikan makam Pocut Meurah Intan juga dapat menjadi media pembelajaran bagi generasi muda tentang sejarah dan makna perjuangan. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya dan sejarah.

Oleh karena itu, peran keluarga RMN Dono Muhammad dalam menjaga dan merawat makam Pocut Meurah Intan di Blora patut diapresiasi. Sebuah warisan budaya dan sejarah yang berharga perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap melekat pada identitas bangsa dan terus dikenang oleh generasi selanjutnya.

Makam Pocut Meurah Intan terletak di kompleks pemakaman keluarga dan tokoh agama Blora di masa lalu yang dirawat oleh keluarga RMN Mochammad Djamil. Meskipun perawatan makam dilakukan secara mandiri oleh keluarga Djamil, namun akibat pandemi Covid-19, pendapatan keluarga mengalami penurunan sehingga perawatan kompleks makam hampir terbengkalai.

Selain itu, beberapa bukti sejarah terkait Pocut Meurah Intan hilang akibat masalah dalam keluarga di masa lalu. Meski demikian, keluarga Djamil menolak usulan pemindahan makam Pocut Meurah Intan ke Aceh karena merupakan wasiat langsung dari Pocut Meurah Intan untuk dirawat oleh keluarga Djamil.

Baca juga: Enstein Disambut Sebagai Pahlawan oleh Yahudi Amerika 100 Tahun Lalu

Tidak hanya keluarga pengurus, mahasiswa Aceh yang belajar di Yogyakarta juga sering datang untuk bertemu dan meminta bantuan pengurusan makam Pocut Meurah Intan kepada pihak berwajib di Aceh. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga sejarah dan heritage budaya kita. Oleh karena itu, pendidikan sejarah sangatlah penting agar generasi muda dapat mengetahui dan memahami warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Dengan menjaga dan merawat makam Pocut Meurah Intan, kita turut melestarikan warisan budaya dan sejarah Aceh yang berharga.

Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Jogja sering mengunjungi makam Pocut Meurah Intan. Lilik, seorang warga setempat, berharap agar para mahasiswa tersebut dapat membantu dalam memperoleh bantuan perawatan untuk makam tersebut. Selain itu, seorang ahli waris Pocut Meurah Intan yaitu Sugeng Riyadi, juga mengusulkan agar makam tersebut dipugar.

Ia pernah menyampaikan wacana pemugaran tersebut pada mantan Bupati Blora Soemarno yang menjabat pada tahun 1979-1989, namun hingga saat ini tidak ada kelanjutan dari rencana tersebut. Sebagai makam sejarah yang memiliki nilai penting bagi Aceh, perlu adanya perhatian dan perawatan yang baik agar dapat terus dijaga keasliannya. Hal ini juga dapat menjadi bagian dari pendidikan sejarah yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Enstein Disambut Sebagai Pahlawan oleh Yahudi Amerika 100 Tahun Lalu

Enstein Disambut Sebagai Pahlawan oleh Yahudi Amerika 100 Tahun Lalu – Pada tanggal 2 April 1921, ribuan warga New York berkumpul di pelabuhan untuk menyambut kedatangan fisikawan terkenal, Albert Einstein. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat dan ia disambut dengan antusias oleh para pengagumnya. Einstein dianggap sebagai selebriti ilmiah yang memiliki deduksi dan pikiran ilmiah yang luar biasa dan telah mengejutkan para intelek di Eropa. Setelah disambut di Balai Kota, Einstein berpindah ke Universitas Columbia untuk menyampaikan kuliah tentang teori relativitasnya. Kedatangan Einstein menjadi sorotan utama di media ku-institute.id dan dianggap sebagai momen sejarah dalam dunia pendidikan dan sains.

Sejak pengamatan gerhana matahari pada tahun 1919 yang mengonfirmasi teori gravitasi Einstein, ia menjadi megabintang di dunia ilmiah. Meskipun teorinya tidak banyak berarti bagi warga negara secara rata-rata, ia tetap dihormati dan dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah sains. Turnya di Amerika berlangsung selama dua bulan dan membawa Einstein ke setengah lusin kota di timur laut dan barat hingga Chicago.

Salah satu kelompok yang sangat senang dengan kedatangan Einstein adalah bangsa Yahudi Amerika. Di pelabuhan, banyak orang memasang spanduk bintang kelap-kelip dan menyanyikan lagu kebangsaan Zionis berjudul Hatikva. Einstein, sebagai orang Yahudi paling terkenal di dunia, datang sebagai “suara harapan”, kata Diana Kormos-Buchwald, sejarawan sains di Caltech dan direktur Einstein Papers Project. Tur perdana itu merupakan upaya penggalangan dana untuk Universitas Ibrani yang diusulkan supaya didirikan di Yerusalem.

Pada akhirnya, kedatangan Einstein ke Amerika Serikat menjadi momen penting dalam sejarah pendidikan dan sains. Meskipun terkenal sebagai selebriti ilmiah, ia tetap dihormati dan dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sains modern. Kunjungan ini juga membantu dalam penggalangan dana untuk pendidikan, terutama untuk Universitas Ibrani di Yerusalem.

Pada masa itu, terdapat ketegangan geopolitik yang mempengaruhi banyak hal, seperti kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I, kekuasaan fasis Italia oleh Benito Mussolini, dan wilayah Palestina yang berada di bawah kekuasaan Inggris. Selain itu, terdapat isu mengenai tanah air Yahudi di Timur Tengah yang menjadi sorotan banyak orang. Namun, hal yang menarik adalah bagaimana orang Yahudi memandang diri mereka di dunia modern dan apa arti sebenarnya menjadi orang Yahudi bagi mereka.

Albert Einstein, seorang tokoh penting dalam sejarah pendidikan dan ilmu pengetahuan, terpaksa menghadapi pertanyaan yang telah ia hindari selama hidupnya. Ia datang ke Amerika saat orang-orang Yahudi dikucilkan dari banyak aspek kehidupan, terutama di dunia akademis. Meskipun mereka telah memasuki bidang hukum dan kedokteran dalam jumlah besar pada akhir abad ke-19, tetapi tetap saja mereka menghadapi diskriminasi.

Tur Einstein diatur oleh Chaim Weizmann, mantan ahli kimia yang menjadi presiden Organisasi Zionis Dunia. Rencana Weizmann adalah memeras sebanyak mungkin jamuan makan, resepsi, dan penggalangan dana selama delapan minggu saat Eisntein berada di AS. Ia berharap dapat mengumpulkan jutaan dolar untuk mendukung Universitas Ibrani.

Dalam konteks sejarah, kunjungan Einstein ke Amerika dan dukungannya terhadap Universitas Ibrani merupakan hal yang penting. Selain itu, hal ini juga menunjukkan pentingnya pendidikan bagi orang Yahudi di masa lalu dan sekarang. Sebagai seorang tokoh profesional, Einstein menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam mengubah nasib seseorang dan menghadapi diskriminasi.

Pandangan Einstein tentang Zionisme berbeda dengan Weizmann. Einstein menolak gagasan negara Yahudi awalnya karena ia membenci nasionalisme dan meyakini bahwa nasionalisme adalah salah satu penyebab perang global yang merenggut sekitar 40 juta nyawa. Pada pidato kepada para pemimpin buruh beberapa tahun kemudian, Einstein menegaskan penolakannya terhadap gagasan negara Yahudi dan menolak keras “nasionalisme sempit” yang akan menemaninya.

Meski kunjungan Weizmann ke Amerika Serikat tidak sesukses yang diharapkan, proyek Universitas Ibrani berhasil dan membuka pintunya pada April 1925. Universitas ini menjadi lambang penting dalam sejarah pendidikan Yahudi dan memainkan peran penting dalam pengembangan kebudayaan dan sains di kawasan tersebut.

Einstein sendiri meninggalkan Jerman pada Desember 1932 dan tidak pernah kembali sejak Hitler berkuasa satu bulan kemudian. Ia menetap di Amerika Serikat secara permanen pada Oktober 1933. Sebagai seorang ilmuwan dan akademisi yang terkenal, Einstein memainkan peran penting dalam sejarah pendidikan dan sains. Kontribusinya dalam ilmu fisika dan matematika tidak dapat disangkal, dan ia menjadi inspirasi bagi banyak generasi ilmuwan dan mahasiswa di seluruh dunia.

Baca juga: Di India, Bayar Biaya Sekolah Hanya dengan Sampah Plastik

Kunjungan Amerika Serikat telah membuka mata Albert Einstein terhadap penderitaan sesama Yahudi, sehingga ia datang untuk lebih merangkul komunitas Yahudi secara mendalam. Pada tahun 1934, Einstein menuliskan esai yang menggambarkan aspek identitas yang paling berarti baginya sebagai seorang Yahudi. Ia menekankan pentingnya pengejaran pengetahuan untuk kepentingan sendiri, cinta akan keadilan yang hampir fanatik, dan keinginan untuk kemerdekaan pribadi. Ciri-ciri tradisi Yahudi itulah yang membuatnya merasa berterima kasih kepada bintang-bintangnya karena ia adalah miliknya.

Negara Israel didirikan pada tahun 1948 dan Chaim Weizmann menjabat sebagai presiden pertama, meskipun peran seremonial tersebut sebenarnya ditawarkan kepada Einstein, yang menolaknya. Einstein menghabiskan sebagian tahun terakhirnya di Princeton, dan menjelang akhir hayatnya ia mengatakan bahwa hubungannya dengan orang-orang Yahudi telah menjadi ikatan manusia terkuatnya.

Sebagai sejarawan, kita dapat melihat bagaimana perjalanan hidup Einstein dan pandangan-pandangannya terhadap identitas Yahudi mempengaruhi pikirannya dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ia mengembangkan teori relativitas dan kontribusinya pada ilmu fisika telah memberi dampak yang besar pada sejarah pendidikan. Kita dapat merayakan nilai-nilai dan inspirasi yang Einstein bawa bersama dalam perjalanan hidupnya untuk memperkuat kebanggaan akan sejarah Yahudi dan juga mengembangkan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Di India, Bayar Biaya Sekolah Hanya dengan Sampah Plastik

Di India, Bayar Biaya Sekolah Hanya dengan Sampah Plastik – India memiliki inovasi yang cerdas ku-institute.id untuk mengatasi persoalan sampah plastik dan juga meningkatkan pendidikan. Di Kota Dispur, Assam, para murid dapat bersekolah secara gratis dengan menukarkan sebundel sampah plastik. Para murid mengumpulkan sampah dari rumah dan lingkungan sekitar mereka.

Proyek  ini dibuat oleh pasangan suami istri, Parmita Sarma dan Mazin Mukhtar, yang berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah. Di kota lain seperti Ghazipur, yang menjadi tempat pembuangan akhir, sampah sudah melebihi kapasitasnya dan mencapai ketinggian yang setara dengan Taj Mahal. Dengan inovasi seperti ini, India dapat mengurangi masalah sampah dan meningkatkan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu.

Kemudian, Mukhtar memberitahu para orangtua bahwa mereka harus mengirimkan plastik sebagai biaya jika ingin anak-anak mereka belajar di sekolah secara gratis. Akibatnya, anak-anak semakin peduli terhadap sampah dan mulai mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah untuk dibawa ke sekolah.

Yang lebih penting, mereka menjadi agen perubahan bagi masyarakat yang lebih peduli terhadap sampah. Menu Bora, seorang wali murid, menceritakan kepada AFP bahwa sebelum proyek ini, dia tidak mengetahui bahaya membakar sampah. Itu adalah kebiasaannya. Namun, proyek ini berhasil mengubah kebiasaan buruk mereka dan membuat mereka sadar akan pentingnya lingkungan. Para wali murid berjanji untuk tidak membuang sampah sembarangan lagi.

Pendidikan adalah kunci untuk memperbaiki perilaku buruk masyarakat. Dengan membangun kesadaran lingkungan sejak dini, anak-anak bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat. Proyek yang dilakukan oleh sekolah ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan lingkungan dalam membentuk perilaku positif.

Sekolah Akshar telah melakukan langkah positif dalam mendukung lingkungan dengan mengumpulkan limbah plastik dari para murid dan mengubahnya menjadi bahan bangunan yang ramah lingkungan. Hal ini tidak hanya membantu memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga mendukung pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Akshar.

Baca juga: Koran Kuno: Peran Tuan Tanah Cina dalam Pendidikan di Tangerang

Sebuah proyek yang patut diacungi jempol dan dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam mendukung pendidikan dan lingkungan. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak termasuk sekolah, untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan menciptakan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak kurang mampu.

Koran Kuno: Peran Tuan Tanah Cina dalam Pendidikan di Tangerang

Koran Kuno: Peran Tuan Tanah Cina dalam Pendidikan di Tangerang – “Silakan ikuti saya,” kata Westi. Kami berjalan menuju ruangan yang luas dengan rak-rak yang menyimpan koleksi surat kabar zaman Hindia Belanda. Westi, seorang petugas di Perpustakaan Nasional sedang mencari bundel Bintang Timor edisi 1874 untuk saya. Dengan bantuan sebuah bangku, ia berhasil menemukan beberapa bundel koran dalam bongkahan kantong-kantong plastik bening di atap rak. Koran kuno yang saya maksud berhasil ditemukan. “Sepertinya koran ini belum dibuat mikrofilm,” ujarnya.

Saya membuka repihan Bintang Timor edisi 13 Mei 1874 dengan hati-hati dan menemukan sebuah cerita tentang Tan Tjeng Po, seorang asisten residen dan tuan tanah yang mendirikan sebuah sekolah di Batu Ceper untuk bocah-bocah desa. Pada peresmian sekolah tersebut, terlihat harapan Tjeng Po bahwa anak-anak desa dapat memperoleh pendidikan ku-institute.id  yang layak seperti anak-anak di kota. Koran itu juga mengabarkan bahwa jarang sekali orang Cina memiliki kemauan yang mulia seperti Tjeng Po.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1875, seorang filantropi dan letnan tituler Souw Siauw Tjong juga mendirikan sekolah serupa di Mauk. Sang tuan tanah ini dikenal kerap berderma, memberi makan orang miskin, dan memiliki tanah yang terbentang di beberapa wilayah. Orang terkaya di Batavia pada masa itu mewariskan rumah berlanggam Cina di Glodok, Jakarta Kota, yang hingga kini masih bisa disaksikan.

Kisah ini menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia, di mana beberapa individu yang kaya dan berpengaruh memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak dari kalangan bawah. Kita harus selalu mengenang dan menghargai perjuangan mereka dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, hamparan pertanian dan perkebunan Tangerang dikuasai oleh para tuan tanah dan opsir Cina. Namun, koran Bintang Timor melaporkan kesadaran sosial budaya yang mewakili orang-orang Cina bahwa ada tuan tanah yang tidak hanya bekerja untuk menumpuk harta belaka. Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 telah mendirikan sekolah-sekolah untuk bumi putra, namun kurangnya dana pendidikan pemerintah mendorong orang-orang Cina untuk mendirikan sekolah partikelir. Sampai akhir abad ke-19, Jawa dan Madura memiliki lebih dari 200 sekolah serupa yang mengasuh sekitar 4.400 murid.

Baca juga: Tiga Ajaran Penting Pendidikan Indonesia dari Ki Hajar Dewantara

Koran Bintang Timor, berbahasa Melayu pasar, pertama kali terbit pada tahun 1862 di Surabaya dan awalnya dibaca oleh kalangan pebisnis di Jawa Timur. Namun, berkembang ke seluruh Jawa, bahkan Sumatra dan Makassar. Koran ini berganti pemilik dari Gebroeders Gimberg & Co. ke pemilik baru, Tjoa Tjoan Lok, dan namanya pun berubah menjadi Bintang Soerabaja pada pertengahan 1887.

Dalam upaya melestarikan sejarah, Westi membantu merapikan koleksi naskah yang merepih. Meskipun ia tidak tega melihat keadaan koleksi yang rusak, ia mengungkapkan bahwa mesin pemindai naskah yang baru dimiliki kantornya belum bisa dioperasikan karena takut merusak naskah. Pendidikan dan pengetahuan sejarah memainkan peran penting dalam menjaga warisan budaya kita. Sebagai pembaca terakhir koran ini, mari kita menghargai dan merawat sejarah yang ada.

Tiga Ajaran Penting Pendidikan Indonesia dari Ki Hajar Dewantara

Tiga Ajaran Penting Pendidikan Indonesia dari Ki Hajar Dewantara – Hari Pendidikan Nasional merupakan momen penting dalam sejarah pendidikan Indonesia, yang berkaitan erat dengan jasa-jasa Ki Hajar Dewantara. Pada tanggal 2 Mei, kita memperingati perjuangan dan kontribusi besar Ki Hajar Dewantara dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara tidak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga sebagai kolumnis produktif dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia. Perguruan Taman Siswa yang didirikannya menjadi lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi warga pribumi jelata untuk memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi atau orang-orang Belanda pada masa penjajahan Belanda.

Melalui pendidikan, Ki Hajar Dewantara berjuang ku-institute.id untuk mengangkat martabat bangsa Indonesia dan memajukan peradaban. Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional harus menjadi momentum bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, serta menghargai jasa-jasa Ki Hajar Dewantara dalam sejarah pendidikan bangsa kita.

Hingga kini, Perguruan Taman Siswa terus mengalami perkembangan dan bertempat di kota Yogyakarta. Sejarah ajaran Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan pun masih terus dilestarikan. Terdapat tiga ajaran penting yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu:

  • Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti seorang pemimpin harus memberikan teladan di depan.
  • Ing Madyo Mangun Karso, merupakan bimbingan di tengah-tengah proses belajar.
  • Terakhir, Tut Wuri Handayani, yang berarti dorongan di belakang proses belajar.

Jika ketiga ajaran tersebut disatukan, maka akan terbentuk kalimat “Ing Ngarso Sun Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani”. Hal ini menggambarkan pentingnya peran seorang pemimpin dalam memberikan bimbingan dan dorongan bagi proses belajar di dunia pendidikan.

Baca juga: Kemajuan Internet Untuk Pendidikan di Papua

Ketiganya merupakan peran penting dalam dunia pendidikan. Saat berada di depan kelas, seorang pendidik harus mampu menunjukkan kepemimpinan yang memberikan inspirasi bagi siswa. Ia juga harus membagikan nilai-nilai positif yang didapatkan dari pengalaman dan refleksi yang kontinu.

Ketika berada di tengah-tengah siswa, seorang pendidik harus mampu menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Di sisi lain, ketika berada di belakang sebagai pengayom atau penasehat, seorang pendidik harus mampu memotivasi siswa untuk tetap mengikuti jejaknya yang positif.

Dalam sejarah pendidikan, peran pendidik adalah sangat penting. Seiring berjalannya waktu, peran ini semakin berkembang dan semakin dihargai. Seorang pendidik tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga nilai-nilai positif yang dapat membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, seorang pendidik harus selalu memperbaharui dirinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru agar dapat memberikan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Pantang Menyerah Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus, Kisah Yulianti

Pantang Menyerah Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus, Kisah Yulianti – Awalnya tidak pernah terpikir oleh Yulianti (36) untuk mengadakan pendidikan bina diri bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, setelah berhasil mendidik putranya sendiri menjadi mandiri, ia tergerak untuk membantu anak-anak lain yang membutuhkan pendidikan yang sama. Dari situlah, didirikanlah sekolah nonformal yang khusus melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

Dalam advertorial ini, Yulianti menekankan pentingnya pendidikan bina diri bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, pendidikan bina diri ku-institute.id adalah kunci untuk membuat anak-anak ini mandiri dan mampu menghadapi kehidupan di masa depan. Dalam sekolah nonformal yang ia dirikan, anak-anak berkebutuhan khusus dituntut untuk mandiri dengan kegiatan sehari-hari, seperti mandi, membersihkan rumah, dan mencuci piring. Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan berbagai keterampilan, seperti mengaji, memasak, dan membuat kerajinan tangan.

Dalam hal ini, Yulianti menunjukkan kepiawaiannya dalam membina anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan pengalaman pribadinya dan kegigihannya, ia berhasil membuktikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus bisa dididik untuk mandiri. Oleh karena itu, pendidikan bina diri menjadi fokus utama dalam pendidikan yang ia berikan di sekolah nonformal tersebut.

Dalam kesimpulannya, advertorial ini menekankan pentingnya pendidikan bina diri bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan pendekatan yang tepat dan kegigihan yang kuat, anak-anak ini bisa dididik untuk mandiri dan mampu menghadapi kehidupan di masa depan. Yulianti sebagai pendiri sekolah nonformal yang khusus melayani anak-anak berkebutuhan khusus, telah membuktikan bahwa pendidikan bina diri adalah kunci keberhasilan bagi anak-anak tersebut.

Yulianti, seorang aktivis pendidikan luar biasa, memiliki impian untuk memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Melihat kemajuan Hanif, seorang anak berkebutuhan khusus yang berhasil dia didik, Yulianti semakin optimis bahwa anak-anak lainnya dapat mencapai hal yang sama jika diberi kesempatan yang sama.

Untuk mewujudkan impian tersebut, Yulianti memutuskan untuk mendirikan sekolah nonformal bagi ABK. Namun, tantangan pertama yang dihadapi Yulianti adalah penolakan orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Banyak orangtua yang tidak ingin menyekolahkan anaknya karena skeptis akan kemampuan sang buah hati atau bahkan ada yang malu dengan kondisi anaknya.

Meski mendapatkan penolakan, Yulianti dan rekan-rekannya tidak menyerah. Mereka terus melakukan kunjungan dan pendekatan kepada orang tua dengan cara yang bijak dan penuh kesabaran. Selain itu, Yulianti juga tidak lupa untuk menceritakan keberhasilannya dalam mengasuh Hanif.

Perjuangan Yulianti akhirnya membuahkan hasil. Ada beberapa orangtua yang akhirnya bersedia menyekolahkan anaknya di sekolah nonformal yang didirikan oleh Yulianti. Hal ini membuat Yulianti semakin termotivasi untuk terus berjuang dalam memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Demi mewujudkan impian tersebut, Yulianti memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Islam Nusantara, Bandung. Ini adalah langkah yang tepat untuk mengembangkan pengetahuannya dalam bidang pendidikan dan memperluas jaringan di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.

Dalam mendukung perjuangan Yulianti, para pihak terkait diharapkan dapat memberikan dukungan dan perhatian yang lebih dalam hal pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Semoga dengan adanya upaya ini, anak-anak berkebutuhan khusus dapat memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan yang layak.

Sebuah kegiatan pendidikan yang luar biasa dilakukan oleh para ABK setiap hari. Mereka belajar dari pukul delapan hingga sebelas pagi dan kemudian bersama-sama menyantap bekal yang dibawa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen untuk beristirahat sejenak dan mengisi perut, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar cara makan dengan baik dan benar. Dimulai dari mengenalkan berbagai jenis makanan hingga melatih mereka agar bisa makan sendiri tanpa disuapi, semua aspek kegiatan ini dirancang untuk membina diri dan kemampuan anak-anak ABK.

Selain kegiatan makan, anak-anak juga diajarkan salat, menghapal doa, dan surat-surat pendek. Mereka juga belajar membaca, menulis, berolahraga, serta mencoba mengenal lingkungan sekitarnya dengan kegiatan luar ruangan. Semua kegiatan ini membutuhkan kesabaran dan dedikasi yang tinggi dari para pendidik, karena mendidik anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah.

Namun, kesulitan tersebut tidak mengurangi semangat dan sukacita Yulianti, seorang pendidik yang telah lama terlibat dalam kegiatan pendidikan anak-anak ABK. Menurutnya, meskipun membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran ekstra, proses mendidik anak-anak ABK selalu menjadi pengalaman yang memuaskan.

Kegiatan pendidikan seperti ini menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga membutuhkan pendidikan yang berkualitas. Advertorial ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan anak-anak ABK.

Baca juga: Kemajuan Internet Untuk Pendidikan di Papua

Sebagai seorang pengajar di Sekolah Dreamable, Yulianti merasa sangat bahagia ketika melihat perkembangan anak didiknya yang mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, seperti makan, membersihkan diri, dan memakai baju sendiri. Hal-hal kecil tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam pendidikan dan pelatihan ABK yang dijalankan di sekolah tersebut.

Yulianti yakin bahwa dengan pendidikan dan pelatihan yang tepat, para ABK bisa menjadi pribadi yang mandiri dan mampu hidup bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Sekolah Dreamable memiliki program pendidikan yang difokuskan pada pengembangan kemampuan sosial dan kemandirian para ABK, sehingga mereka bisa hidup secara mandiri jika kelak orang tua atau keluarga mereka tidak lagi ada di samping mereka.

Sebagai advertorial, kami ingin mengajak masyarakat untuk memahami betapa pentingnya pendidikan bagi para ABK agar mereka bisa hidup mandiri dan bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Dukunglah Sekolah Dreamable dalam membantu para ABK meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang tepat.